pandu

Dibawah Langit, 29 Juli 2020


    Aku pernah belajar disekolah mengenai bagaimana bumi berputar, Dia berputar dengan porosnya, meski aku tak pernah tau bagaimana bentuk asli poros itu, tapi aku percaya bahwa poros itu ada, dan aku percaya bahwa bumi berputar dengan bantuannya, tapi disisi itu semua, Aku tahu dan aku percaya ada sang Pengatur Alam semesta, Pengatur segala apa yang ada didunia, sang pemberi nafas, sang pemberi segala yang ada ditubuh manusia beserta makhluknya, tak lepas seperti Hewan, dan tumbuhan. 

    Dan Kali ini aku diberikan anugerah mencintai seorang manusia yang sama-sama di ciptakan sang Pengatur dunia dan seisinya. Dimana aku menjalani sebagian masa mudaku dengan mengenalnya dan berharap bisa bersamanya selama sisa hidupku. 
    Ya dia orang yang sama dalam beberapa tahun terakhir ku percayakan melewati waktu bersamaku, mendengar kisah-kisah dariku, dari hal kecil hingga hal penting dalam hidupku. 
Aku sering berdo'a untuk bisa melewati hari-hariku dengan perasaan yang sama, orang yang sama, dalam kondisi seperti apapun. 
    Hebat, aku merasakan diriku terlalu hebat dalam berkhayal, memimpikan sesuatu yang bahkan aku tak tahu bagaimana dengan kehidupanku esok hari. 

Waktu yang kulewati, segala keadaan yang sudah terlewati, jarak pembatas diantara dia dan diriku tidak pernah sekalipun ku pusingkan, bahkan itu masih bukan termasuk dalam tantangan. 

    Aku selalu merasa dia dan diriku adalah dua manusia yang memiliki frekuensi yang hampir sama. bahkan seperti ada darah saudara yang tidak aku ketahui darimana sumbernya, dan mengapa aku bisa menyebutkan hal seperti itu.
    Pertemuannya denganku selalu menjadi salah satu rasa syukurku karena, kehadirannya benar-benar membantuku, melihat dunia yang lebih luas, dan membuatku mau berkembang menjadi aku dengan versi baruku. 
    Dia benar-benar menjaadi dirinya tanpa aku harus melihat bagaimana dia menjadi seseorang yang aku mau, dia tetap dirinya, dan hal itu yang membuat ku jatuh cinta berkali-kali padanya.

    Dia seperti perhiasan mahal dimana aku pertama kali menemuinya seumur hidupku, bisa dibayangkan seperti masa kecil yang tidak pernah memainkan mainan mahal, tiba-tiba suatu hari mendapatkan barang itu, tentu bahagia tiada tara, dan akan menjadi hari paling spesial dalam hidup. 

    Kenyataan waktu berjalan, dan tidak ada waktu yang bisa diputar kembali. 
Dia masih disini di dalam hati ini, tertanam dan mungkin tidak akan hilang hanya karena aku menemukan orang lain, setiap orang yang kutemui berbeda, dan tidak akan ada yang sama bahkan jika ada yang mirip dengannya. 
    
    Apa kau percaya? Didunia ini tidak ada yang kebetulan. semuanya tersusun rapi dengan cerita-cerita yang tak terduga, dan bahkan sering sulit dipikirkan hanya dengan memakai otak yang ada didalam kepala. 
Tidak bosan-bosannya aku membicarakan bagaimana pertama kali bertemu dengan sosok itu, terlalu manis hingga aku lupa, disetiap rasa yang manis akan timbul rasa pahit yang tidak tau terbuat darimana. 

    Dia, ya kusebut lagi dirinya, yang mana kusuka senyumnya, tawanya yang seperti anak kecil, ejekannya yang kadang sering membuat ku kesal, tapi bahkan aku tak bisa membencinya bahkan untuk secuil. Beberapa kali dalam beberapa tahun, aku sering marah tanpa sebab. aku sering mengeluh karenanya.. Tapi semua itu hanya kulakukan karena rasa rindu dan kesal yang bercampur karena tidak tau kabar darinya. dan ketika rindu itu memuncak dan tiba-tiba dia hadir hanya memberikan pesan singkat. itu akan membuatku marah berhari-hari bahkan berbulan-bulan hingga dia kembali menghubungiku. aku ingin tertawa jika mengingat itu, karena terasa lucu saat kau tahu pernah melakukan hal seperti itu.

    Tapi faktanya hal seperti itulah yang membuatku terbiasa dan mampu bertahan melewati hari tanpa dirinya, tanpa tahu kabarnya, tapi tetap dengan perasaan yang semakin hari bertambah. 
Aku bahkan tak pernah membayangkan jika suatu hari kami tidak bersama, karena aku tidak pernah menginginkan kemungkinan itu. 

    Namun tidak pernah aku menyangka semakin waktu terlewati, umur kami semakin bertambah, satu-persatu permasalahan pribadi yang kami alami di waktu masing-masing membuat pola pikir kami berubah, tapi bahkan diantara kami tidak ada satupun yang ingin mencampuri permasalahan itu kedalam cerita romansa kami. karena aku merasa tidak ada yang perlu dia khawatirkan tentang diriku, dan bahkan aku tidak ingin dia mengkhawatirkan apapun karenaku. 
    Dibalik kisah pahit kehidupan yang kami alami masing-masing, aku selalu berharap dia akan menceritakan hal berat yang dialaminya, meskipun aku sangat sadar tidak akan ada yang bisa kulakukan untuk membantunya menyelesaikan permasalahannya apalagi yang menyangkut beban dihatinya. apa yang bisa kuperbuat selain berdo'a kebaikan, dan kelapangan untuknya.

    Apakah aku salah? karena sering aku berpikir bahwa dia memiliki pemikiran yang sama sepertiku, seperti ada yang terhubung meski kami diam tanpa bersuara. setiap aku melihat matanya, aku seperti mendengar apa yang dia ucapkan, dan begitupun aku berpikir dia mendengar apa yang kukatakan.
    Apa Aku salah? karena tidak sekali aku merasa dia bisa mengerti hanya dengan melihat ekspresiku, dan sering dia balas dengan cara yang berbeda. seperti menanggapi dengan jujur, ataupun dengan mengubah topik hingga aku melupakan hal yang membuat ekspresi aneh diwajahku.

    Banyak hal yang membuatku bersedih karenanya, bukan karena dia menyakitiku, ataupun melakukan hal yang tidak aku suka. melainkan karena aku yang tidak pernah bisa melakukan apapun untuknya, perasaanku bahkan lebih dangkal darinya, padahal dia selalu membuat ku senang dibalik egoisnya diriku, berbicara, dan bercerita pendek atau panjang, benar-benar menjadi waktu ternyaman dengannya. 
    Apa kau pernah merasa di suatu hari kau sibuk bekerja seharian hingga lupa beristirahat untuk memejamkan mata walau sebentar, dan mendapati hati gelisah ketika belum sampai kerumah.

    Begitulah perasaanku jika belum dihubunginya dalam waktu lama, namun terbayar saat dia kembali hadir, dan membuatku seolah pulang kerumah, ada perasaan lega yang tidak bisa hanya ku ungkapkan dengan kata-kata. hal paling sederhana yang aku inginkan yaitu melihat dirinya tanpa ada kalimat yang keluar dari mulut ini.
    
    Lalu ada saat dimana dia sering merasa kehilangan dirinya sendiri, dan saat itu aku selalu tidak ada untuknya, benar-benar membuat hati sakit namun tak berdaya. hingga yang kulakukan hanya memberinya waktu  sendiri untuk mengobati hatinya. karena aku sendiri selalu memilih untuk membuat waktu sendiri agar aku bisa menyembuhkan luka yang bahkan orang lain tidak bisa mengobatinya, bahkan untuk orang tuaku. tapi untuk waktu seperti itu, membuatku sering berpikir untuk sadar bahwa aku bahkan bukan orang yang baik untuknya, tidak berguna, dan tidak bisa apa-apa.
    Aku hanya berharap dia tidak membenciku karena banyak hal yang tidak bisa kulakukan untuknya.

    Pernahkah kau dengar kisah cinta yang berakhir dalam keadaan baik-baik saja? 
Ya kembali pada dasar. 
Pada dasarnya aku dan dia mungkin memiliki pikiran yang sama yaitu, segala hal mengenai hidup yang kami alami adalah Skenario Allah SWT. 
    Sehingga diantara kami berdua mungkin sudah mengantisipasi bahwa akan ada kemungkinan kami tidak dipersatukan dalam ikatan yang kami impikan bersama. namun faktanya meski sudah memiliki pemikiran seperti itu, tidak menutup kemungkinan akan ada rasa kecewa, dan perasaan sedih karena jika hal itu terjadi, sama saja dengan kegagalan dalam harapan. tentu saja itu wajar karena kami berdua adalah manusia. tidak ada manusia yang benar-benar keras hatinya. 

   Maka Kemungkinan yang paling menakutkan saat ini adalah kehilangannya, kemunculan rasa hampa didada, perasaan yang menguap di udara, hilang hingga tak memiliki jejak karena pernah bersama. menjaga komitmen, menahan kerinduan yang tidak tahu kapan diantaranya akan bertemu kembali.
    
    hari ini terjadi lagi, dimana posisiku yang terombang ambing merenungi banyak hal,  meskipun sebenarnya pemikiran dalam renungan itu bisa saja ku abaikan. namun sulit, aku tidak menyukai memendam sesuatu yang berat terlalu lama.
    dari pertanyaan di atas, aku pernah selalu percaya pasti ada kisah cinta yang berakhir baik-baik saja. meskipun dalam kehidupanku aku tidak terlalu banyak mengenal pria, tapi dari yang pernah aku temui ,aku merasa perpisahan dengan mereka berakhir baik-baik saja, dari mengucapkan perpisahan aku tidak pernah merasa kecewa, marah, atau sedih dan pertemanan kami kembali terjalin dengan baik-baik saja hingga kutemui mereka yang akhirnya sudah berkeluarga. aku iri sekaligus ikut bahagia dengan mereka yang menemui pasangan yang tepat dan mengambil keputusan diwaktu belia. dan itu mungkin salah satu impian ku yang entah kutaruh pada nomor keberapa.

    namun ternyata proses kehidupan mengubah segalanya, banyak hal yang dialami selama proses itu bekerja siang dan malam. pendapat ku mengenai cinta berakhir baik menjadi kesalahan. banyak hal yang akan tidak diterima, ya mungkin aku bisa berusaha hingga terbiasa dan biarkan waktu mengobati dan aku bisa menjalin pertemanan kembali meskipun ketika melihat akan terkenang dan merindukan kenangan itu berkali-kali. tapi aku bisa memberi batas karena semua yang terjadi  sudah menjadi aturan yang tidak bisa aku rubah ataupun kutentang. lalu dimana yang salah? 
    kesalahannya ada pada caraku berpikir, begitu egois. mungkin aku bisa seperti itu. bagaimana dengannya? kenyataan mengingat bagaimana dia akan terluka benar-benar menampar perasaan. 
aku hanya berharap, meskipun harapan itu berkali-kali ku ucapkan, semoga Allah berikan kebahagiaan pada kehidupannya dan kehidupanku.

    

   

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Crown

Learn to know you